Sabtu, 12 April 2008

Aku cinta kamu!

Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri/suami Anda dalam sehari? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang istri/suami mungkin bertanya: perlukah itu diucapkan setiap hari? Ada juga yang beranggapan, kalimat itu hanya dibutuhkan oleh meraka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah bertahun-tahun, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa sudah tua membuat Anda tidak membutuhkannya lagi.

Perasaan manusia selamanya fluktuatif. Demikian pula semua jenis emosi, kadar rasa cinta, benci, takut,senang, dan semacamnnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap.

Situasi ini kemudian mengantar kepada kenyataan lain. Bahwa kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorot mata, gerak tubuh dan perlakuan umum. Tapi detil perasaan itu tetap tidak tertangkap selama ia tidak diungkap secara verbal. Perlukah detil perasaan itu kita ketahui, kalau isyarat-isyaratnya sudah terungkap? Mungkin ya mungkin tidak. Tapi yang pasti bahwa kita semua, dari waktu ke waktu membutuhkan kepastian. Bahwa kita tidak salah memahi isyarat tersebut.

Dari suasana ketidakpastian itulah biasanya setan memasuki dunia hati.Karena salah satu misi setan, kata Ibnu Qoyyim al jauziyyah adalah memisahkan orang yang saling mencintai. “Dan mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dengannya mereka dapat memisahkan seseorang dari pasangannya.”(QS.2:102)

Dalam suatu riwayat: Suatu ketika seorang sahabat duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian seorang sahabat yang lain berlalu didepan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullah saw itu berkata:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.”

“Sudahkah engkau menyatakn cintamu padanya?” tanya Rasulullah saw.

“Belum, ya Rasulullah.” Kata sahabat.

“Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya.’ Kata Rasulullah saw.

Jika kepada sesama sahabat rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita banyangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya Anda berikan kepada istri/suami Anda? Apakah mahluk yang satu ini, yang mendampingi Anda lebih banyak saat-saat lelah dan susah dibanding saat-saat suka dan lapang, tidak lebih berhak untuk mendengar ungkapan rasa cinta itu?

Setan apakah yang telah meyakinkan Anda begitu rupa bahwa mahluk yang mulia yang bernama istri/suami Anda tidak butuh ungkapan “ I love you” karena Anda sudah sama-sama tahu, sama-sama paham atau karena sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara’anak-anak muda’ menyatakan cinta?

Setan apakah yang telah membuat Anda begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata?

Setan apakah yang telah membuat Anda begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati Anda yang sesungguhnya dan menyatakan secara sederhana tanpa beban?

Tapi mungkin juga ada situasi begini. Anda mencinta istri/suami Anda. Anda juga tidak tehambat oleh keangkuhan untuk menyatakan berulang-ulang. Masalahnya hanya satu, Anda tidak bisa melakukan itu secara verbal. Dan itu membuat Anda kaku. Jika Anda termasuk golongan ini, Anda dapat melakukannya lewat tulisan seperti secarik surat atau puisi , baik karangan Anda ataupun mengutif dari karya para sastrawan. Misalkan puisi karya Sapardi Djoko Damono:


Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat terucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Berikanlah puisi ini pada istri/suami Anda melalui putera atau putri Anda.



Sumber:
Biar kuncupnya mekar jadi bunga, M. Anis Matta

Tidak ada komentar: